SEBAB SEBAB DITURUKANYA RIZKI -
BERHARAP RIZKI YANG SELALU HALAL

Rasulullahصلى الله عليه وسلم bersabda, yang artinya:
"Ya
Allah, cukupilah aku dengan rezeki-Mu yang halal (hingga akuselamat)
dari yang haram. Cukupilah aku dengan karunia-Mu (hingga aku tidak
meminta) kepada selain-Mu." {HR. At-Tirmidzi dan dihasankan oleh
Al-Albani Rahimahullah dlm Shahihut Targhib wat Tarhib no. 1820}.
KEBANYAKAN
orang lebih banyak menuntut kepada Allah untuk diberi banyak kemudahan,
tetapi melupakan untuk melakukan hal-hal yang menyebabkan Allah
berkenan mengkabulkan keinginanya...
Allah سبحانه و تعالى telah
menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya sebab-sebab yang dapat mendatangkan
rizki dengan penjelasan yang amat gamblang. Dia menjanjikan keluasan
rizki kepada siapa saja yang menempuhnya serta menggunakan cara-cara
itu, Allah سبحانه و تعالى juga memberikan jaminan bahwa mereka pasti
akan sukses serta mendapatkan rizki dengan tanpa disangka-sangka.
SELAIN DENGAN HARUS BEKERJA KERAS Diantara sebab-sebab yang melapangkan rizki adalah sebagai berikut:
1.) Takwa Kepada Allah سبحانه و تعالى
Takwa
merupakan salah satu sebab yang dapat mendatangkan rizki dan
menjadikannya terus bertambah. Allah سبحانه و تعالى berfirman, artinya,
“Barangsiapa
yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke
luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya.”
(At Thalaq 2-3).
Setiap orang yang bertakwa, menetapi segala yang
diridhai Allah سبحانه و تعالى dalam segala kondisi maka Allah سبحانه و
تعالى akan memberikan keteguhan di dunia dan di akhirat. Dan salah
satu dari sekian banyak pahala yang dia peroleh adalah Allah akan
menjadikan baginya jalan keluar dalam setiap permasalahan dan
problematika hidup, dan Allah سبحانه و تعالى akan memberikan kepadanya
rizki secara tidak terduga.
Imam Ibnu Katsir berkata tentang
firman Allah di atas, “Yaitu barang siapa yang bertakwa kepada Allah
dalam segala yang diperintahkan dan menjauhi apa saja yang Dia larang
maka Allah akan memberikan jalan keluar dalam setiap urusannya, dan Dia
akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari
jalan yang tidak pernah terlintas sama sekali sebelumnya.”
Allah سبحانه و تعالى juga berfirman, yang artinya,
“Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami
akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi
mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka
disebabkan perbuatannya.” (QS. 7: 96).
2.) Istighfar dan Taubat
Termasuk
sebab yang mendatang kan rizki adalah istighfar dan taubat, sebagaimana
firman Allah yang mengisahkan tentang Nabi Nuh Alaihissalam ,
“Maka
aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya
Dia adalah Maha Pengampun” niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu
dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan
untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu
sungai-sungai.” (QS. 71:10-12).
Al-Qurthubi mengatakan, “Di dalam
ayat ini, dan juga dalam surat Hud (ayat 52,red) terdapat petunjuk
bahwa istighfar merupakan penyebab turunnya rizki dan hujan.”
Ada
seseorang yang mengadukan kekeringan kepada al-Hasan al-Bashri, maka
beliau berkata, “Beristighfarlah kepada Allah”, lalu ada orang lain yang
mengadukan kefakirannya, dan beliau menjawab, “Beristighfarlah kepada
Allah”. Ada lagi yang mengatakan, “Mohonlah kepada Allah agar memberikan
kepadaku anak!” Maka beliau menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah”.
Kemudian ada yang mengeluhkan kebunnya yang kering kerontang, beliau pun
juga menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah.”
Maka orang-orang
pun bertanya, “Banyak orang berdatangan mengadukan berbagai persoalan,
namun anda memerintahkan mereka semua agar beristighfar.” Beliau lalu
menjawab, “Aku mengatakan itu bukan dari diriku, sesungguhnya Allah swt
telah berfirman di dalam surat Nuh,(seperti tersebut diatas, red)
Istighfar
yang dimaksudkan adalah istighfar dengan hati dan lisan lalu berhenti
dari segala dosa, karena orang yang beristighfar dengan lisannnya saja
sementara dosa-dosa masih terus dia kerjakan dan hati masih senantiasa
menyukainya maka ini merupakan istighfar yang dusta. Istighfar yang
demikian tidak memberikan faidah dan manfaat sebagaimana yang
diharapkan.
3.) Tawakkal Kepada Allah سبحانه و تعالى
Allah سبحانه و تعالى berfirman, yang artinya,
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. 65: 3).
Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم telah bersabda, yang artinya,
“Seandainya
kalian mau bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya maka pasti
Allah akan memberikan rizki kepadamu sebagaimana burung yang diberi
rizki, pagi-pagi dia dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan
kenyang.” (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani)
Tawakkal
kepada Allah merupakan bentuk memperlihatkan kelemahan diri dan sikap
bersandar kepada-Nya saja, lalu mengetahui dengan yakin bahwa hanya
Allah yang memberikan pengaruh di dalam kehidupan. Segala yang ada di
alam berupa makhluk, rizki, pemberian, madharat dan manfaat, kefakiran
dan kekayaan, sakit dan sehat, kematian dan kehidupan dan selainnya
adalah dari Allah semata.
Maka hakikat tawakkal adalah
sebagaimana yang di sampaikan oleh al-Imam Ibnu Rajab, yaitu
menyandarkan hati dengan sebenarnya kepada Allah Azza wa Jalla di dalam
mencari kebaikan (mashlahat) dan menghindari madharat (bahaya) dalam
seluruh urusan dunia dan akhirat, menyerahkan seluruh urusan hanya
kepada Allah serta merealisasikan keyakinan bahwa tidak ada yang dapat
memberi dan menahan, tidak ada yang mendatangkan madharat dan manfaat
selain Dia.
4.) Silaturrahim
Ada banyak hadits yang
menjelaskan bahwa silaturrahim merupakan salah satu sebab terbukanya
pintu rizki, di antaranya adalah sebagai berikut:
Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم , yang artinya,
“Dari
Abu Hurairah ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم
bersabda, “Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan
umurnya maka hendaklah menyambung silaturrahim.” (HR Al Bukhari)
Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم , yang artinya,
“Dari
Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم
bersabda, “Ketahuilah orang yang ada hubungan nasab denganmu yang engkau
harus menyambung hubungan kekerabatan dengannya. Karena sesungguhnya
silaturrahim menumbuhkan kecintaan dalam keluarga, memperbanyak harta
dan memperpanjang umur.” (HR. Ahmad dishahihkan al-Albani)
Yang
dimaksudkan dengan kerabat (arham) adalah siapa saja yang ada hubungan
nasab antara kita dengan mereka, baik itu ada hubungan waris atau tidak,
mahram atau bukan mahram.
5.) Infaq fi Sabilillah
Allah سبحانه و تعالى berfirman, yang artinya,
“Dan
barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan
Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. 34:39)
Ibnu
Katsir berkata, “Yaitu apapun yang kau infakkan di dalam hal yang
diperintahkan kepadamu atau yang diperbolehkan, maka Dia (Allah) akan
memberikan ganti kepadamu di dunia dan memberikan pahala dan balasan di
akhirat kelak.”
Juga firman Allah سبحانه و تعالى yang lain,yang artinya,
“Hai
orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari
hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari hasil usahamu yang
baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk
kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan
dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan
dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha
Kaya lagi Maha Terpuji. Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan
kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah
menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha
Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. 2:267-268)
Dalam
sebuah hadits qudsi Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda,
Allah سبحانه و تعالى berfirman, “Wahai Anak Adam, berinfaklah maka Aku
akan berinfak kepadamu.” (HR Muslim)
6.) Menyambung Haji dengan Umrah
Berdasarkan
pada hadits Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم dari Ibnu Mas”ud
Radhiallaahu anhu dia berkata, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
artinya,
“Ikutilah haji dengan umrah karena sesungguhnya keduanya
akan menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana pande besi
menghilangkan karat dari besi, emas atau perak, dan haji yang mabrur
tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. at-Tirmidzi dan an- Nasai,
dishahihkan al-Albani)
Maksudnya adalah, jika kita berhaji maka
ikuti haji tersebut dengan umrah, dan jika kita melakukan umrah maka
ikuti atau sambung umrah tersebut dengan melakukan ibadah haji.
7.) Berbuat Baik kepada Orang Lemah
Rasulullah
Muhammad صلى الله عليه وسلم telah menjelaskan bahwa Allah akan
memberikan rizki dan pertolongan kepada hamba-Nya dengan sebab ihsan
(berbuat baik) kepada orang-orang lemah, Beliau bersabda, artinya,
“Tidaklah
kalian semua diberi pertolongan dan diberikan rizki melainkan karena
orang-orang lemah diantara kalian.” (HR. al-Bukhari)
Dhu”afa”
(orang-orang lemah) klasifikasinya bermacam-macam, ada fuqara, yatim,
miskin, orang sakit, orang asing, wanita yang terlantar, hamba sahaya
dan lain sebagainya.
8.) Bersungguh-sungguh di dalam Beribadah
Diriwayatkan
dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, dari Nabi Muhammad صلى الله عليه
وسلم , “Allah سبحانه و تعالى berfirman, artinya,
“Wahai Anak
Adam Bersungguh-sungguhlah engkau beribadah kepada Ku, maka Aku akan
memenuhi dadamu dengan kecukupan dan Aku menanggung kefakiranmu. Jika
engkau tidak melakukan itu maka Aku akan memenuhi dadamu dengan
kesibukan dan Aku tidak menanggung kefakiranmu.”
Tekun beribadah
bukan berarti siang malam duduk di dalam masjid serta tidak bekerja,
namun yang dimaksudkan adalah menghadirkan hati dan raga dalam
beribadah, tunduk dan khusyu” hanya kepada Allah, merasa sedang
menghadap Pencipta dan Penguasanya, yakin sepenuhnya bahwa dirinya
sedang bermunajat, mengadu kepada Dzat Yang menguasai Langit dan Bumi.
Dan
masih banyak lagi pintu-pintu rizki yang lain, seperti hijrah, jihad,
bersyukur, menikah, bersandar kepada Allah, meninggalkan kemaksiatan,
istiqamah serta melakukan ketaatan, yang tidak dapat di sampaikan secara
lebih rinci dalam tulisan ini. Mudah-mudahan Allah memberi kan taufik
dan bimbingan kepada kita semua. Amin.
----------------------------------------------------------------------------------
--------semoga bermanfaat--------
Untuk
Anggota Grup AHSANU QAWLAN Penyejuk Hati.
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
(((~~~
Saat jiwa kita sangat mencintai kebenaran, maka rawatlah dengan
sebaik-baiknya, sehingga Allah juga berkenan merawat dan melindungi kita
untuk menjadi hamba-Nya yang selalu ber-istiqomah.
"Bersegeralah
beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam
yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu
sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia
menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad no: 8493)
"Bersegeralah
kamu dengan mengerjakan amalan-amalan (shalih) sebelum munculnya
berbagai macam fitnah (kerusakan/ penyimpangan dalam agama) yang
(gambarannya) seperti satu bagian malam yang gelap gulita, (sehingga)
ada seorang yang di waktu pagi dia masih memiliki iman tapi di waktu
sore dia telah menjadi orang yang kafir, dan (ada juga) yang di waktu
sore dia masih memiliki iman tapi besok paginya dia telah menjadi orang
yang kafir, dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (HR. Muslim
no: 118).~~~)))
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
KEWAJIBAN KITA TERHADAP DIENUL ISLAM
ALLAH
سبحانه و تعالى menciptakan kita HANYA untuk MENGABDI kepada-Nya, untuk
itu perlu upaya yang sangat maksimal, penuh kehatai-hatian dalam hidup
agar setiap detik waktu kita terisi aktifitas yang pada PENILAIAN ALLAH
سبحانه و تعالى bernilai ibadah kepada-Nya...
SETELAH sepenuhnya
keyakinan kita terhunjam dalam hati, BAHWA HANYA dengan ber- ISLAM-lah
kita akan mendapat sa'adah/kebahagiaan dunia-akherat, maka keyakinan
penuh ini akan semakin menyadarkan diri kita diiringi rasa senang dan
rasa sangat membutuhkan untuk melaksanakan semua kewajiban terhadap
DIENUL ISLAM yang kita anut. Ada empat kewajiban kita terhadap Dienul
Islam:
MEMPELAJARI-MENGAMALKAN-MENYAMPAIKAN-KOMITMEN
---------------------------------------------------------------------------
Tanamkan
niat bahwa optimalisasi pelaksanaan kewajiban terhadap Dienul Islam
yang kita lakukan semata-mata hanya dalam rangka mengabdi kepada Allah.
ALLAH
menciptakan kita HANYA untuk MENGABDI kepada-Nya, untuk itu perlu upaya
yang sangat maksimal, penuh kehatai-hatian dalam hidup agar setiap
detik waktu kita terisi aktifitas yang pada PENILAIAN ALLAH bernilai
ibadah kepada-Nya...
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan agar mereka mengabdikan diri kepada-Ku (Allah)". (Terjemah
Al-Quran Surat Az-zariat ayat 56 )
"Hai orang-orang yang beriman,
masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu
turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata
bagimu".(Terjemah Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 208).
---------------------------------------------------------------------------
I. KEWAJIBAN MEMPELAJARI
"Hai
orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah
dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah,
niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah
Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Terjemah Al-Quran Surat
Al-Mujadilah ayat 11)
"Dan sungguh akan Kami tempatkan di dalam
jahanam kebanyakan jin dan manusia, mereka memiliki hati tidak
dipergunakan untuk menghayatinya (ayat-ayat Allah), dan mereka memiliki
mata tidak dipergunakan untuk melihatnya (ayat-ayat Allah),dan mereka
memiliki pendengaran tidak dipergunakan untuk mendengarnya (ayat-ayat
Allah), mereka laksana binatang ternak bahkan lebih buruk lagi, mereka
itulah orang-orang yang lalai". (Terjemah Al-Quran Surat Al-'Araaf ayat
179).
"Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan
kepadanya Al-Kitab, hikmah, dan kenabian, lalu ia berkata kepada manusia
‘hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembah Allah’. Akan tetapi (ia
berkata) : ‘Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu
selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kaum mempelajarinya."
(Terjemah Al-Quran Surat Al-Imran ayat 79)
Dari Abu Musa
Al-Asy`arit berkata, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
"Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur`an bagaikan buah limau
baunya harum dan rasanya lezat. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak
membaca Al Qur`an bagaikan kurma, rasanya lezat dan tidak berbau. Dan
perumpamaan orang munafik yang membaca Al Qur`an bagaikan buah raihanah
yang baunya harum dan rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafik yang
tidak membaca Al Qur`an bagaikan buah hanzholah tidak berbau dan rasanya
pahit." (HR. Muttafaqun 'Alaihi).
Dari Abu Musa r.a. berkata,
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: "Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang
diberikan oleh Allah kepadaku bagaikan hujan yang turun ke tanah, maka
ada sebagian tanah yang subur, yang dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan
dan rumput yang banyak sekali. Dan adapula tanah yang keras menahan air,
hingga berguna untuk minuman dan penyiraman kebun tanaman. Dan ada
sebagian tanah yang keras kering tidak dapat menahan air dan tidak pula
menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Demikianlah perumpamaan orang yang pandai
dalam agama Allah dan mempergunakan apa yang diberikan Allah kepadaku,
lalu mengajarkannya dan perumpamaan orang yang tidak dapat menerima
petunjuk Allah yang telah ditugaskan kepadaku." (HR. Bukhari - Muslim)
---------------------------------------------------------------------------
II. KEWAJIBAN MELAKSANAKAN
Pengetahuan
kita yang mendalam terhadap Dienul Islam tanpa mengimplementasikan
dalam kehidupan sehari-hari tidaklah cukup untuk meraih keselamatan
dunia-akherat kita, maka ilmu yang sudah kita raih harus diiringi amal
perbuatan.
"Tetapi Kami jadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang Kami
tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.
Dan sesungguhnyaKami benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang
lurus." (Terjemah Al-Quran SuratAsy-Syura ayat 52)
"Adapun
orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan
mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya, mereka itulah
orang-orang yang beruntung." (Terjemah Al-Quran Surat Al-A 'raf ayat
157)
"....Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia,
(tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku
dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa
yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir."
(Terjemah Al-Quran Surat Almaidah ayat 44).
"....Barangsiapa yang
tidak menghukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu
adalah orang-orang zalim." (Terjemah Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 45).
"....Barangsiapa
tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka
itu adalah orang-orang yang fasik." (Terjemah Al-Quran Surat Almaidah
47).
---------------------------------------------------------------------------
III. KEWAJIBAN MENYAMPAIKAN/MENDA'WAHKAN
Indahnya
beribadah kepada Allah, berkesanya diri kita terhadap nilai-nilai taqwa
tidak boleh hanya kita rasakan sendiri, kita wajib membawa serta orang
lain untuk juga mampu (biidznillah) merasakan hal yang sama... Apa yang
sudah kita ketahui dari ajaran Islam dan kita juga sudah berupaya keras
untuk melaksanakanya maka segeralah sampaikan kepada orang lain, jangan
menunggu perasaan telah sempurna mampu melaksanakanya karena hal itu
akan membuat kita terhalang untuk memulai berda'wah. Berda'wah memang
bisa hanya dengan perbuatan, hal ini kita laksanakan pada
kondisi-kondisi tertentu saja, tentunya kita ingin bisa melakukan
aktifitas Da'wah dalam bentuk lain, bisa dengan lisan atau tulisan,
bahkan sampai pada tahap berda'wah dengan menyertakan lebih banyak lagi
apa-apa yang kita miliki. Da'wah adalah fardlu 'ain, menunaikanya
merupakan kewajiban setiap individu kita...
"Katakanlah: "Inilah
jalan (agama) ku, aku (Rasul) dan orang-orang yang mengikutiku mengajak
(kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku
tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (Terjemah Al-Quran SuratYusuf
ayat 108).
"Balighu 'anni walau ayyah (sampaikan daripada ku walau satu ayat)." (HR. Bukhari).
“Hai
orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan
menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Terjemah Al-Quran Surat
Muhammad ayat 7).
---------------------------------------------------------------------------
IV. KEWAJIBAN KONSISTEN DAN KOMITMEN
Salah
satu keuntungan dari melaksanakan tugas da'wah antara lain kita lebih
termotifasi untuk lebih taat kepada Allah, karena Allah sangat membenci
kepada orang-orang yang hanya pandai berbicara tetapi malas untuk
melaksanakan, ---tidak berda'wah salah dihadapan Allah, berda'wah tetapi
tidak komitmen dengan yang dida'wahkan juga lebih salah di hadapan-Nya,
yang benar adalah BERDAWAH DAN MENJAGA KOMITMEN AMAL PERBUATAN.
"Hai
orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan apa-apa yang kamu
tidak kerjakan. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan
apa-apa yang tidak kamu kerjakan". (Terjemah Al-Quran Surat As-Shaff
ayat 2-3).
Dari Abu Zaid (Usamah) bin Zaid Haritsah r.a. berkata:
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Seseorang dihadapkan di hari
kiamat kemudian dilemparkan ke dalam neraka maka keluar usus perutnya
lalu berputar-putar di dalam neraka bagaikan himaryang berputar di
sekitar penggilingan. Maka kerumunan ahli neraka menghampiri padanya
sambil bertanya, "Hai Fulan, mengapakah engkau, bukankah engkau dahulu
yang menganjurkan kebaikan dan mencegah kemunkaran?" Jawabnya, "Benar,
aku dahulu menganjurkan kebaikan, tetapi tidak saya kerjakan dan
mencegah kemunkaran tetapi saya kerjakan."
(HR. Bukhari - Muslim).
---------------------------------------------------------------------------
EMPAT
kewaiban di atas seharusnya bukan terasa sebagai BEBAN bagi kita tetapi
justru harus dirasakan sebagai kebutuhan, akan selalu terasa sebagi
sebuah KENIKMATAN empat kewajiban tersebut, selama kita terus
mengakrabkan kewajiban-kewajiban itu dalam kehidupan kita...SELALU...
Mudah-mudahan Allah senantiasa melapangkan hati kita untuk senang, giat,
optimis, terus menerus, istiqomah menunaikan kewajiban-kewajiban
sebagai seorang muslim untuk menjadi mu'min yang sebenar-benarnya...
AMIN YA ROBBI!
----------------------------------------------------------------------------------
--------semoga bermanfaat--------
Untuk Anggota Grup AHSANU QAWLAN Penyejuk Hati
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
(((~~~
Saat jiwa kita sangat mencintai kebenaran, maka rawatlah dengan
sebaik-baiknya, sehingga Allah juga berkenan merawat dan melindungi kita
untuk menjadi hamba-Nya yang selalu ber-istiqomah.
"Bersegeralah
beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam
yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu
sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia
menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad no: 8493)
"Bersegeralah
kamu dengan mengerjakan amalan-amalan (shalih) sebelum munculnya
berbagai macam fitnah (kerusakan/ penyimpangan dalam agama) yang
(gambarannya) seperti satu bagian malam yang gelap gulita, (sehingga)
ada seorang yang di waktu pagi dia masih memiliki iman tapi di waktu
sore dia telah menjadi orang yang kafir, dan (ada juga) yang di waktu
sore dia masih memiliki iman tapi besok paginya dia telah menjadi orang
yang kafir, dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (HR. Muslim
no: 118).~~~)))
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
KEWAJIBAN SETIAP MUSLIM TERHADAP AL-QUR'AN
Menurut bahasa, "Qur’an" berarti "bacaan", pengertian seperti ini dikemukakan dalam Al-Qur’an.
"Sesungguhnya
mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya
(pada lidahmu) itu adalah tanggungan kami. (Karena itu), jika kami telah
membacakannya, hendaklah kamu ikuti bacaannya".(Terjemah Al-Qur'an Surat Al-Qiyamah, ayat 17-18).
Adapun
menurut istilah Al-Qur’an berarti: Kalam Allah سبحانه و تعالى yang
merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad صلى الله
عليه وسلم melalui malaikat Jibril, yang disampaikan secara mutawatir dan
membacanya merupakan ibadah.
Al Quran adalah Kitab Allah سبحانه و
تعالى petunjuk kehidupan menuju keselamatan dunia dan akhirat. Setiap
muslim dituntut untuk berinteraksi/bermu'ayasah dengannya, menjalin
keakraban, menjadi sahabatnya bahkan menjadi keluarganya yang siap
mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, harta bahkan kalau perlu nyawa demi
isi Al-Quran.
Kewajiban setiap muslim terhadap Al-Quran:
Firman Allah سبحانه و تعالى yang artinya:
"Dan
sungguh akan Kami tempatkan di dalam jahanam kebanyakan jin dan
manusia, mereka memiliki hati tidak dipergunakan untuk menghayatinya
(ayat-ayat Allah), dan mereka memiliki mata tidak dipergunakan untuk
melihatnya (ayat-ayat Allah),dan mereka memiliki pendengaran tidak
dipergunakan untuk mendengarnya (ayat-ayat Allah), mereka laksana
binatang ternak bahkan lebih buruk lagi, mereka itulah orang-orang yang
lalai". (QS. Al-A'raaf(7): 179).
1. Tilawah dan Tahsin
Tanggungjawab
pertama seorang muslim terhadap Al-Qur'an adalam ‘tilawah’. Tilawah
sering diartikan membaca. Sesuai dengan makna asal katanya yang berarti
mengikuti, maka makna tilawah tersebut adalah mengikuti setiap
huruf-demi huruf dengan segala tuntutan kesempurnaannya sebagaimana yang
dicontohkan yakni dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad صلى الله عليه
وسلم. Oleh karena itu tilawah yang berarti membaca, memiliki penekanan
makna bahwa membaca itu harus tepat dan benar sesuai dengan orisinalitas
bacaannya yang bersumber dari Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم,
dipraktikkan para sahabat dan dipelihara oleh para pengikut sunnahnya
yang setia. Dengan demikian, pada kata tilawah terkandung pula makna
tahsin. Tahsin menurut bahasa artinya membaguskan yakni membaguskan
bacaan Al-Qur'an sebagaimana standar-standarnya yang telah ditetapkan
dari sumbernya. Istilah Tahsin sering disebut dalam kitab-kitab
bertemakan tentang tajwid (aturan membaca Al-Qur'an) sebagai sinonim
kata tajwid, sementara menurut istilah, tajwid adalah mengeluarkan
huruf-demi huruf dari tempat keluarnya dengan memberikan hak dan
mustahaknya. Hak huruf adalah kesempurnaan pengucapan huruf disertai
dengan kesempurnaan penerapan sifatnya sedangkan mustahak huruf adalah
mengaplikasikan hukum-hukum bacaan terutama ketika satu huruf
berhubungan dengan huruf lainnya.
2. Tahfizh
Tahfizh
Al-Qur'an adalah tanggung jawab berikutnya terhadap Al-Qur'an. Tahfizh
berarti menjaga dan memelihara Al-Qur'an terutama dengan cara
menghafalkannya atau dalam ingatan. Penjagaan dan pemeliharaanAl-Qur'an
dengan cara ini, lebih mendekatkan setiap muslim pada al Quran karena ia
dapat membacakannya di manapun kapan pun dengan mudahnya karena
Al-Qur'an sudah tersimpan dalam ingatannya dan kesempatan untuk
mendapatkan pahala pun semakin luas dan mudah. Adapun ayatAl-Qur'an dan
hadits-hadits shahih yang bersumber dari Rasulullah Muhammad صلى الله
عليه وسلم banyak sekali yang mengindikasikan pentingnya menghafal
Al-Qur'an ini.
3. Tafhim
Tafhim merupakan tanggung
jawab seorang muslim terhadapAl-Qur'an yang ketiga. Tafhim berarti
memahami. Banyak sekali ayat Al-Qur'an yang mengingatkan bahwa fungsi
Al-Qur'an adalah sebagai petunjuk menuju keselamatan dunia dan akhirat
oleh karena itu menuntut setiap muslim untuk memahami dan mampu
mendalami maknanya dalam rangka menguak makna yang terdalam melaui
tafsir dan tadabbur. Tanpa upaya ini, maka keagungan Al-Qur'an tidak
akan dapat dirasakan dalam kehidupan.
4. Tathbiq
Tathbiq
Al-Qur'an merupakan tanggung jawab berikutnya. Tathbiq artinya adalah
merealisasikan dalam pengamalan. Penjagaan dan pemeliharaan Al-Qur'an
melalui hafalan adalah dalam rangka mendekatkan setiap muslim terhadap
kitab petunjuk kehidupannya. Melalui pemahaman yang mendalam, maka
nilai-nilai Al-Qur'an dapat berfungsi secara aplikatif dalam kehidupan
sehingga tujuan dapat tercapai, kebahagiaan dunia dan akhirat pun telah
mentaatinya.
5. Tabligh
Tabligh adalah menyampaikan
artinya, nilai-nilai Al-Qur'an yang telah dipahami dan diaplikasikan
dalam kehidupan bukanlah semata-mata untuk mencapai kesalehan secara
pribadi saja tetapi setiap muslim pun dituntut untuk
mensosialisasikannya kepada masyarakat secara umum sebagai wujud
kepeduliaannya terhadap sesama.
Keutamaan Membaca-menghafat-menghayati-melaksanakan-menda'wahkan Al-Qur'an:
Dari
Abu Musa Al-Asy`arit berkata, Rasulullah bersabda: "Perumpamaan orang
mukmin yang membaca Al Qur`an bagaikan buah limau baunya harum dan
rasanya lezat. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al Qur`an
bagaikan kurma, rasanya lezat dan tidak berbau. Dan perumpamaan orang
munafik
yang membaca Al Qur`an bagaikan buah raihanah yang baunya harum dan
rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al
Qur`an bagaikan buah hanzholah tidak berbau dan rasanya pahit." (HR.
Muttafaqun 'Alaihi).
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Penghafal Al Quran akan datang pada hari
kiamat, kemudian Al Quran akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia,
kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al Quran
kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu diapakaikan
jubah karamah. Kemudian Al Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku ridhailah
dia, maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, bacalah
dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah menambahkan dari
setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan” (HR. Tirmidzi,
hadits hasan {2916}, Inu Khuzaimah, Al Hakim, ia menilainya hadits
shahih).
Al Qur’an akan menjadi penolong (syafa’at) bagi
penghafal .Dari Abi Umamah ra. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda, “Bacalah olehmu Al-Qur’an, sesungguhnya ia
akan menjadi pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi para pembacanya
(penghafalnya).”" (HR. Muslim).
Nabi صلى الله عليه وسلم
memberikan amanat pada para hafizh dengan mengangkatnya sebagai pemimpin
delegasi. Dari Abu Hurairah ia berkata, “Telah mengutus Rasulullah SAW
sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan
mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal,
maka sampailah pada Shahabi yang paling muda usianya, beliau bertanya,
“Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,”Aku hafal surat ini.. surat
ini.. dan surat Al Baqarah.” Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah?”
Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, “Benar.” Nabi bersabda, “Berangkatlah
kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (HR. At-Turmudzi dan An-Nasa’i).
Nikmat
mampu menghafal Al-Qur’an sama dengan nikmat kenabian, bedanya ia tidak
mendapatkan wahyu, “Barangsiapa yang membaca (hafal) Al Quran, maka
sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian, hanya saja tidak
diwahyukan padanya.” (HR. Hakim)
Seorang hafizh Al Qur’an adalah
orang yang mendapatkan Tasyrif nabawi (Penghargaan khusus dari Nabi صلى
الله عليه وسلم). Di antara penghargaan yang pernah diberikan Nabi صلى الله عليه وسلم
kepada para sahabat penghafal Al Qur’an adalah perhatian yang khusus
kepada para syuhada Uhud yang hafizh Al-Qur’an. Rasul mendahulukan
pemakamannya. “Adalah Nabi mengumpulkan diantara orang syuhada uhud,
kemudian beliau bersabda, :Manakah diantara keduanya yang lebih banyak
hafal Al-Quran, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliu
mendahulukan pemakamannya di liang lahat.” (HR. Bukhari)
Hafizh
Qur’an adalah keluarga Allah yang berada di atas bumi. “Sesungguhnya
Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya,
“Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al-Qur’an.
Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)
Siapa
yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka
dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti
cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan)
yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami
dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak
kalian untuk mempelajari Al-Qur’an.” (HR. Al-Hakim)
“Dan
perumpamaan orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan ia hafal ayat-ayatnya
bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (Muttafaqun alaih)
Dari
Abdillah bin Amr bin ‘Ash dari Nabi صلى الله عليه وسلم, beliau
bersabda, “Akan dikatakan kepada shahib Al-Qur’an, “Bacalah dan naiklah
serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Al Qur’an di dunia,
sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca.” (HR. Abu Daud
dan Turmudzi)
Kepada hafizh Al-Qur’an, Rasul صلى الله عليه وسلم
menetapkan berhak menjadi imam shalat berjama’ah. Rasulullah SAW
bersabda, “Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak
hafalannya.” (HR. Muslim)
“Barangsiapa yang membaca satu huruf
dari Al-Qur’an maka baginya satu hasanah, dan hasanah itu akan
dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu
huruf, namun Alif itu satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.”
(HR. At Turmudzi).
Bahkan Allah membolehkan seseorang memiliki
rasa iri terhadap para ahlul Qur’an, “Tidak boleh seseorang berkeinginan
kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang yang diajarkan oleh
Allah kepadanya Al-Qur’an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan
siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata,
‘Andaikan aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat
berbuat sebagaimana si fulan berbuat’ (HR. Bukhari).
----------------------------------------------------------------------------------
--------semoga bermanfaat--------
Untuk Anggota Grup AHSANU QAWLAN Penyejuk Hati
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
(((~~~
Saat jiwa kita sangat mencintai kebenaran, maka rawatlah dengan
sebaik-baiknya, sehingga Allah juga berkenan merawat dan melindungi kita
untuk menjadi hamba-Nya yang selalu ber-istiqomah.
"Bersegeralah
beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam
yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu
sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia
menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad no: 8493)
"Bersegeralah
kamu dengan mengerjakan amalan-amalan (shalih) sebelum munculnya
berbagai macam fitnah (kerusakan/ penyimpangan dalam agama) yang
(gambarannya) seperti satu bagian malam yang gelap gulita, (sehingga)
ada seorang yang di waktu pagi dia masih memiliki iman tapi di waktu
sore dia telah menjadi orang yang kafir, dan (ada juga) yang di waktu
sore dia masih memiliki iman tapi besok paginya dia telah menjadi orang
yang kafir, dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (HR. Muslim
no: 118).~~~)))
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------