Sabtu, 04 Januari 2014

SEBAB SEBAB DITURUKANYA RIZKI -
BERHARAP RIZKI YANG SELALU HALAL



 

Rasulullahصلى الله عليه وسلم bersabda, yang artinya:

"Ya Allah, cukupilah aku dengan rezeki-Mu yang halal (hingga akuselamat) dari yang haram. Cukupilah aku dengan karunia-Mu (hingga aku tidak meminta) kepada selain-Mu." {HR. At-Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani Rahimahullah dlm Shahihut Targhib wat Tarhib no. 1820}.

KEBANYAKAN orang lebih banyak menuntut kepada Allah untuk diberi banyak kemudahan, tetapi  melupakan untuk melakukan hal-hal yang menyebabkan Allah berkenan mengkabulkan keinginanya...

Allah سبحانه و تعالى  telah menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya sebab-sebab yang dapat mendatangkan rizki dengan penjelasan yang amat gamblang. Dia menjanjikan keluasan rizki kepada siapa saja yang menempuhnya serta menggunakan cara-cara itu, Allah سبحانه و تعالى  juga memberikan jaminan bahwa mereka pasti akan sukses serta mendapatkan rizki dengan tanpa disangka-sangka.


SELAIN DENGAN HARUS BEKERJA KERAS Diantara sebab-sebab yang melapangkan rizki adalah sebagai berikut:

1.) Takwa Kepada Allah سبحانه و تعالى

Takwa merupakan salah satu sebab yang dapat mendatangkan rizki dan menjadikannya terus bertambah. Allah سبحانه و تعالى berfirman, artinya,

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya.” (At Thalaq 2-3).

Setiap orang yang bertakwa, menetapi segala yang diridhai Allah سبحانه و تعالى  dalam segala kondisi maka Allah سبحانه و تعالى  akan memberikan keteguhan di dunia dan di akhirat. Dan salah satu dari sekian banyak pahala yang dia peroleh adalah Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dalam setiap permasalahan dan problematika hidup, dan Allah سبحانه و تعالى  akan memberikan kepadanya rizki secara tidak terduga.

Imam Ibnu Katsir berkata tentang firman Allah di atas, “Yaitu barang siapa yang bertakwa kepada Allah dalam segala yang diperintahkan dan menjauhi apa saja yang Dia larang maka Allah akan memberikan jalan keluar dalam setiap urusannya, dan Dia akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari jalan yang tidak pernah terlintas sama sekali sebelumnya.”

Allah سبحانه و تعالى  juga berfirman, yang artinya,

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. 7: 96).

2.) Istighfar dan Taubat

Termasuk sebab yang mendatang kan rizki adalah istighfar dan taubat, sebagaimana firman Allah yang mengisahkan tentang Nabi Nuh Alaihissalam ,

“Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun” niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. 71:10-12).

Al-Qurthubi mengatakan, “Di dalam ayat ini, dan juga dalam surat Hud (ayat 52,red) terdapat petunjuk bahwa istighfar merupakan penyebab turunnya rizki dan hujan.”

Ada seseorang yang mengadukan kekeringan kepada al-Hasan al-Bashri, maka beliau berkata, “Beristighfarlah kepada Allah”, lalu ada orang lain yang mengadukan kefakirannya, dan beliau menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah”. Ada lagi yang mengatakan, “Mohonlah kepada Allah agar memberikan kepadaku anak!” Maka beliau menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah”. Kemudian ada yang mengeluhkan kebunnya yang kering kerontang, beliau pun juga menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah.”

Maka orang-orang pun bertanya, “Banyak orang berdatangan mengadukan berbagai persoalan, namun anda memerintahkan mereka semua agar beristighfar.” Beliau lalu menjawab, “Aku mengatakan itu bukan dari diriku, sesungguhnya Allah swt telah berfirman di dalam surat Nuh,(seperti tersebut diatas, red)

Istighfar yang dimaksudkan adalah istighfar dengan hati dan lisan lalu berhenti dari segala dosa, karena orang yang beristighfar dengan lisannnya saja sementara dosa-dosa masih terus dia kerjakan dan hati masih senantiasa menyukainya maka ini merupakan istighfar yang dusta. Istighfar yang demikian tidak memberikan faidah dan manfaat sebagaimana yang diharapkan.

3.) Tawakkal Kepada Allah سبحانه و تعالى

Allah سبحانه و تعالى berfirman, yang artinya,

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. 65: 3).

 Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم  telah bersabda, yang artinya,

“Seandainya kalian mau bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya maka pasti Allah akan memberikan rizki kepadamu sebagaimana burung yang diberi rizki, pagi-pagi dia dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani)

Tawakkal kepada Allah merupakan bentuk memperlihatkan kelemahan diri dan sikap bersandar kepada-Nya saja, lalu mengetahui dengan yakin bahwa hanya Allah yang memberikan pengaruh di dalam kehidupan. Segala yang ada di alam berupa makhluk, rizki, pemberian, madharat dan manfaat, kefakiran dan kekayaan, sakit dan sehat, kematian dan kehidupan dan selainnya adalah dari Allah semata.

Maka hakikat tawakkal adalah sebagaimana yang di sampaikan oleh al-Imam Ibnu Rajab, yaitu menyandarkan hati dengan sebenarnya kepada Allah Azza wa Jalla di dalam mencari kebaikan (mashlahat) dan menghindari madharat (bahaya) dalam seluruh urusan dunia dan akhirat, menyerahkan seluruh urusan hanya kepada Allah serta merealisasikan keyakinan bahwa tidak ada yang dapat memberi dan menahan, tidak ada yang mendatangkan madharat dan manfaat selain Dia.

4.) Silaturrahim
Ada banyak hadits yang menjelaskan bahwa silaturrahim merupakan salah satu sebab terbukanya pintu rizki, di antaranya adalah sebagai berikut:

Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم , yang artinya,

“Dari Abu Hurairah ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah  صلى الله عليه وسلم bersabda, “Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah menyambung silaturrahim.” (HR Al Bukhari)

 Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم , yang artinya,

“Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , Nabi  Muhammad صلى الله عليه وسلم  bersabda, “Ketahuilah orang yang ada hubungan nasab denganmu yang engkau harus menyambung hubungan kekerabatan dengannya. Karena sesungguhnya silaturrahim menumbuhkan kecintaan dalam keluarga, memperbanyak harta dan memperpanjang umur.” (HR. Ahmad dishahihkan al-Albani)

Yang dimaksudkan dengan kerabat (arham) adalah siapa saja yang ada hubungan nasab antara kita dengan mereka, baik itu ada hubungan waris atau tidak, mahram atau bukan mahram.

5.) Infaq fi Sabilillah

Allah سبحانه و تعالى berfirman, yang artinya,

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. 34:39)

Ibnu Katsir berkata, “Yaitu apapun yang kau infakkan di dalam hal yang diperintahkan kepadamu atau yang diperbolehkan, maka Dia (Allah) akan memberikan ganti kepadamu di dunia dan memberikan pahala dan balasan di akhirat kelak.”

Juga firman Allah سبحانه و تعالى  yang lain,yang artinya,

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. 2:267-268)

Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda, Allah سبحانه و تعالى  berfirman, “Wahai Anak Adam, berinfaklah maka Aku akan berinfak kepadamu.” (HR Muslim)

6.) Menyambung Haji dengan Umrah

Berdasarkan pada hadits  Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم  dari Ibnu Mas”ud Radhiallaahu anhu dia berkata, Rasulullah  صلى الله عليه وسلم bersabda, artinya,

“Ikutilah haji dengan umrah karena sesungguhnya keduanya akan menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana pande besi menghilangkan karat dari besi, emas atau perak, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. at-Tirmidzi dan an- Nasai, dishahihkan al-Albani)

Maksudnya adalah, jika kita berhaji maka ikuti haji tersebut dengan umrah, dan jika kita melakukan umrah maka ikuti atau sambung umrah tersebut dengan melakukan ibadah haji.

7.)  Berbuat Baik kepada Orang Lemah

 Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم  telah menjelaskan bahwa Allah akan memberikan rizki dan pertolongan kepada hamba-Nya dengan sebab ihsan (berbuat baik) kepada orang-orang lemah, Beliau bersabda, artinya,

“Tidaklah kalian semua diberi pertolongan dan diberikan rizki melainkan karena orang-orang lemah diantara kalian.” (HR. al-Bukhari)

Dhu”afa” (orang-orang lemah) klasifikasinya bermacam-macam, ada fuqara, yatim, miskin, orang sakit, orang asing, wanita yang terlantar, hamba sahaya dan lain sebagainya.

8.) Bersungguh-sungguh di dalam Beribadah

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, dari Nabi  Muhammad صلى الله عليه وسلم , “Allah سبحانه و تعالى  berfirman, artinya,

“Wahai Anak Adam Bersungguh-sungguhlah engkau beribadah kepada Ku, maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kecukupan dan Aku menanggung kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukan itu maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kesibukan dan Aku tidak menanggung kefakiranmu.”

Tekun beribadah bukan berarti siang malam duduk di dalam masjid serta tidak bekerja, namun yang dimaksudkan adalah menghadirkan hati dan raga dalam beribadah, tunduk dan khusyu” hanya kepada Allah, merasa sedang menghadap Pencipta dan Penguasanya, yakin sepenuhnya bahwa dirinya sedang bermunajat, mengadu kepada Dzat Yang menguasai Langit dan Bumi.

Dan masih banyak lagi pintu-pintu rizki yang lain, seperti hijrah, jihad, bersyukur, menikah, bersandar kepada Allah, meninggalkan kemaksiatan, istiqamah serta melakukan ketaatan, yang tidak dapat di sampaikan secara lebih rinci dalam tulisan ini. Mudah-mudahan Allah memberi kan taufik dan bimbingan kepada kita semua. Amin.
----------------------------------------------------------------------------------

--------semoga bermanfaat--------

Untuk Anggota Grup AHSANU QAWLAN Penyejuk Hati. ----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
(((~~~ Saat jiwa kita sangat mencintai kebenaran, maka rawatlah dengan sebaik-baiknya, sehingga Allah juga berkenan merawat dan melindungi kita untuk menjadi hamba-Nya yang selalu ber-istiqomah.

"Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad no: 8493)

"Bersegeralah kamu dengan mengerjakan amalan-amalan (shalih) sebelum munculnya berbagai macam fitnah (kerusakan/ penyimpangan dalam agama) yang (gambarannya) seperti satu bagian malam yang gelap gulita, (sehingga) ada seorang yang di waktu pagi dia masih memiliki iman tapi di waktu sore dia telah menjadi orang yang kafir, dan (ada juga) yang di waktu sore dia masih memiliki iman tapi besok paginya dia telah menjadi orang yang kafir, dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (HR. Muslim no: 118).~~~)))
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
KEWAJIBAN KITA TERHADAP DIENUL ISLAM


ALLAH سبحانه و تعالى menciptakan kita HANYA untuk MENGABDI kepada-Nya, untuk itu perlu upaya yang sangat maksimal, penuh kehatai-hatian dalam hidup agar setiap detik waktu kita terisi aktifitas yang pada PENILAIAN ALLAH سبحانه و تعالى bernilai ibadah kepada-Nya...

SETELAH sepenuhnya keyakinan kita terhunjam dalam hati, BAHWA HANYA dengan ber- ISLAM-lah kita akan mendapat sa'adah/kebahagiaan dunia-akherat, maka keyakinan penuh ini akan semakin menyadarkan diri kita diiringi rasa senang dan rasa sangat membutuhkan untuk melaksanakan semua kewajiban terhadap DIENUL ISLAM yang kita anut. Ada empat kewajiban kita terhadap Dienul Islam:


MEMPELAJARI-MENGAMALKAN-MENYAMPAIKAN-KOMITMEN
---------------------------------------------------------------------------
Tanamkan niat bahwa optimalisasi pelaksanaan kewajiban terhadap Dienul Islam yang kita lakukan semata-mata hanya dalam rangka mengabdi kepada Allah.

ALLAH menciptakan kita HANYA untuk MENGABDI kepada-Nya, untuk itu perlu upaya yang sangat maksimal, penuh kehatai-hatian dalam hidup agar setiap detik waktu kita terisi aktifitas yang pada PENILAIAN ALLAH bernilai ibadah kepada-Nya...

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka mengabdikan diri kepada-Ku (Allah)". (Terjemah Al-Quran Surat Az-zariat ayat 56 )

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu".(Terjemah Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 208).
---------------------------------------------------------------------------
I. KEWAJIBAN MEMPELAJARI

"Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Terjemah Al-Quran Surat Al-Mujadilah ayat 11)

"Dan sungguh akan Kami tempatkan di dalam jahanam kebanyakan jin dan manusia, mereka memiliki hati tidak dipergunakan untuk menghayatinya (ayat-ayat Allah), dan mereka memiliki mata tidak dipergunakan untuk melihatnya (ayat-ayat Allah),dan mereka memiliki pendengaran tidak dipergunakan untuk mendengarnya (ayat-ayat Allah), mereka laksana binatang ternak bahkan lebih buruk lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai". (Terjemah Al-Quran Surat Al-'Araaf ayat 179).

"Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah, dan kenabian, lalu ia berkata kepada manusia ‘hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembah Allah’. Akan tetapi (ia berkata) : ‘Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kaum mempelajarinya." (Terjemah Al-Quran Surat Al-Imran ayat 79)

Dari Abu Musa Al-Asy`arit berkata, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: "Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur`an bagaikan buah limau baunya harum dan rasanya lezat. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al Qur`an bagaikan kurma, rasanya lezat dan tidak berbau. Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al Qur`an bagaikan buah raihanah yang baunya harum dan rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al Qur`an bagaikan buah hanzholah tidak berbau dan rasanya pahit." (HR. Muttafaqun 'Alaihi).

Dari Abu Musa r.a. berkata, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: "Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang diberikan oleh Allah kepadaku bagaikan hujan yang turun ke tanah, maka ada sebagian tanah yang subur, yang dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput yang banyak sekali. Dan adapula tanah yang keras menahan air, hingga berguna untuk minuman dan penyiraman kebun tanaman. Dan ada sebagian tanah yang keras kering tidak dapat menahan air dan tidak pula menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Demikianlah perumpamaan orang yang pandai dalam agama Allah dan mempergunakan apa yang diberikan Allah kepadaku, lalu mengajarkannya dan perumpamaan orang yang tidak dapat menerima petunjuk Allah yang telah ditugaskan kepadaku." (HR. Bukhari - Muslim)
---------------------------------------------------------------------------
II. KEWAJIBAN MELAKSANAKAN

Pengetahuan kita yang mendalam terhadap Dienul Islam tanpa mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari tidaklah cukup untuk meraih keselamatan dunia-akherat kita, maka ilmu yang sudah kita raih harus diiringi amal perbuatan.

"Tetapi Kami jadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnyaKami benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (Terjemah Al-Quran SuratAsy-Syura ayat 52)

"Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Terjemah Al-Quran Surat Al-A 'raf ayat 157)

"....Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (Terjemah Al-Quran Surat Almaidah ayat 44).

"....Barangsiapa yang tidak menghukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang zalim." (Terjemah Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 45).

"....Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik." (Terjemah Al-Quran Surat Almaidah 47).
---------------------------------------------------------------------------
III. KEWAJIBAN MENYAMPAIKAN/MENDA'WAHKAN

Indahnya beribadah kepada Allah, berkesanya diri kita terhadap nilai-nilai taqwa tidak boleh hanya kita rasakan sendiri, kita wajib membawa serta orang lain untuk juga mampu (biidznillah) merasakan hal yang sama... Apa yang sudah kita ketahui dari ajaran Islam dan kita juga sudah berupaya keras untuk melaksanakanya maka segeralah sampaikan kepada orang lain, jangan menunggu perasaan telah sempurna mampu melaksanakanya karena hal itu akan membuat kita terhalang untuk memulai berda'wah. Berda'wah memang bisa hanya dengan perbuatan, hal ini kita laksanakan pada kondisi-kondisi tertentu saja, tentunya kita ingin bisa melakukan aktifitas Da'wah dalam bentuk lain, bisa dengan lisan atau tulisan, bahkan sampai pada tahap berda'wah dengan menyertakan lebih banyak lagi apa-apa yang kita miliki. Da'wah adalah fardlu 'ain, menunaikanya merupakan kewajiban setiap individu kita...

"Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku (Rasul) dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (Terjemah Al-Quran SuratYusuf ayat 108).

"Balighu 'anni walau ayyah (sampaikan daripada ku walau satu ayat)." (HR. Bukhari).

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Terjemah Al-Quran Surat Muhammad ayat 7).
---------------------------------------------------------------------------
IV. KEWAJIBAN KONSISTEN DAN KOMITMEN

Salah satu keuntungan dari melaksanakan tugas da'wah antara lain kita lebih termotifasi untuk lebih taat kepada Allah, karena Allah sangat membenci kepada orang-orang yang hanya pandai berbicara tetapi malas untuk melaksanakan, ---tidak berda'wah salah dihadapan Allah, berda'wah tetapi tidak komitmen dengan yang dida'wahkan juga lebih salah di hadapan-Nya, yang benar adalah BERDAWAH DAN MENJAGA KOMITMEN AMAL PERBUATAN.

"Hai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan apa-apa yang kamu tidak kerjakan. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan". (Terjemah Al-Quran Surat As-Shaff ayat 2-3).

Dari Abu Zaid (Usamah) bin Zaid Haritsah r.a. berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Seseorang dihadapkan di hari kiamat kemudian dilemparkan ke dalam neraka maka keluar usus perutnya lalu berputar-putar di dalam neraka bagaikan himaryang berputar di sekitar penggilingan. Maka kerumunan ahli neraka menghampiri padanya sambil bertanya, "Hai Fulan, mengapakah engkau, bukankah engkau dahulu yang menganjurkan kebaikan dan mencegah kemunkaran?" Jawabnya, "Benar, aku dahulu menganjurkan kebaikan, tetapi tidak saya kerjakan dan mencegah kemunkaran tetapi saya kerjakan."

(HR. Bukhari - Muslim).
---------------------------------------------------------------------------
EMPAT kewaiban di atas seharusnya bukan terasa sebagai BEBAN bagi kita tetapi justru harus dirasakan sebagai kebutuhan, akan selalu terasa sebagi sebuah KENIKMATAN empat kewajiban tersebut, selama kita terus mengakrabkan kewajiban-kewajiban itu dalam kehidupan kita...SELALU... Mudah-mudahan Allah senantiasa melapangkan hati kita untuk senang, giat, optimis, terus menerus, istiqomah menunaikan kewajiban-kewajiban sebagai seorang muslim untuk menjadi mu'min yang sebenar-benarnya...
AMIN YA ROBBI!
----------------------------------------------------------------------------------

--------semoga bermanfaat--------

Untuk Anggota Grup AHSANU QAWLAN Penyejuk Hati
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
(((~~~ Saat jiwa kita sangat mencintai kebenaran, maka rawatlah dengan sebaik-baiknya, sehingga Allah juga berkenan merawat dan melindungi kita untuk menjadi hamba-Nya yang selalu ber-istiqomah.

"Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad no: 8493)

"Bersegeralah kamu dengan mengerjakan amalan-amalan (shalih) sebelum munculnya berbagai macam fitnah (kerusakan/ penyimpangan dalam agama) yang (gambarannya) seperti satu bagian malam yang gelap gulita, (sehingga) ada seorang yang di waktu pagi dia masih memiliki iman tapi di waktu sore dia telah menjadi orang yang kafir, dan (ada juga) yang di waktu sore dia masih memiliki iman tapi besok paginya dia telah menjadi orang yang kafir, dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (HR. Muslim no: 118).~~~)))
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
KEWAJIBAN SETIAP MUSLIM TERHADAP AL-QUR'AN




Menurut bahasa, "Qur’an" berarti "bacaan", pengertian seperti ini dikemukakan dalam Al-Qur’an.
"Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan kami. (Karena itu), jika kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti bacaannya".(Terjemah Al-Qur'an
Surat Al-Qiyamah, ayat 17-18).
 

Adapun menurut istilah Al-Qur’an berarti: Kalam Allah سبحانه و تعالى yang merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada  Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم melalui malaikat Jibril, yang disampaikan secara mutawatir dan membacanya merupakan ibadah.

Al Quran adalah Kitab Allah سبحانه و تعالى  petunjuk kehidupan menuju keselamatan dunia dan akhirat. Setiap muslim dituntut untuk berinteraksi/bermu'ayasah dengannya, menjalin keakraban, menjadi sahabatnya bahkan menjadi keluarganya yang siap mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, harta bahkan kalau perlu nyawa demi isi Al-Quran.

Kewajiban setiap muslim terhadap Al-Quran:

Firman Allah سبحانه و تعالى yang artinya:

"Dan sungguh akan Kami tempatkan di dalam jahanam kebanyakan jin dan manusia, mereka memiliki hati tidak dipergunakan untuk menghayatinya (ayat-ayat Allah), dan mereka memiliki mata tidak dipergunakan untuk melihatnya (ayat-ayat Allah),dan mereka memiliki pendengaran tidak dipergunakan untuk mendengarnya (ayat-ayat Allah), mereka laksana binatang ternak bahkan lebih buruk lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai". (QS. Al-A'raaf(7): 179).

1.     Tilawah dan Tahsin

Tanggungjawab pertama seorang muslim terhadap Al-Qur'an adalam ‘tilawah’. Tilawah sering diartikan membaca. Sesuai dengan makna asal katanya yang berarti mengikuti, maka makna tilawah tersebut adalah mengikuti setiap huruf-demi huruf dengan segala tuntutan kesempurnaannya sebagaimana yang dicontohkan yakni dicontohkan oleh  Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم. Oleh karena itu tilawah yang berarti membaca, memiliki penekanan makna bahwa membaca itu harus tepat dan benar sesuai dengan orisinalitas bacaannya yang bersumber dari  Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم, dipraktikkan para sahabat dan dipelihara oleh para pengikut sunnahnya yang setia. Dengan demikian, pada kata tilawah terkandung pula makna tahsin. Tahsin menurut bahasa artinya membaguskan yakni membaguskan bacaan Al-Qur'an sebagaimana standar-standarnya yang telah ditetapkan dari sumbernya. Istilah Tahsin sering disebut dalam kitab-kitab bertemakan tentang tajwid (aturan membaca Al-Qur'an) sebagai sinonim kata tajwid, sementara menurut istilah, tajwid adalah mengeluarkan huruf-demi huruf dari tempat keluarnya dengan memberikan hak dan mustahaknya. Hak huruf adalah kesempurnaan pengucapan huruf disertai dengan kesempurnaan penerapan sifatnya sedangkan mustahak huruf adalah mengaplikasikan hukum-hukum bacaan terutama ketika satu huruf berhubungan dengan huruf lainnya.

2.    Tahfizh

Tahfizh Al-Qur'an adalah tanggung jawab berikutnya terhadap Al-Qur'an. Tahfizh berarti menjaga dan memelihara Al-Qur'an terutama dengan cara menghafalkannya atau dalam ingatan. Penjagaan dan pemeliharaanAl-Qur'an dengan cara ini, lebih mendekatkan setiap muslim pada al Quran karena ia dapat membacakannya di manapun kapan pun dengan mudahnya karena Al-Qur'an sudah tersimpan dalam ingatannya dan kesempatan untuk mendapatkan pahala pun semakin luas dan mudah. Adapun ayatAl-Qur'an  dan hadits-hadits shahih yang bersumber dari Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم banyak sekali yang mengindikasikan pentingnya menghafal Al-Qur'an ini.

3.    Tafhim

Tafhim merupakan tanggung jawab seorang muslim terhadapAl-Qur'an yang ketiga. Tafhim berarti memahami. Banyak sekali ayat Al-Qur'an yang mengingatkan bahwa fungsi Al-Qur'an adalah sebagai petunjuk menuju keselamatan dunia dan akhirat oleh karena itu menuntut setiap muslim untuk memahami dan mampu mendalami maknanya dalam rangka menguak makna yang terdalam melaui tafsir dan tadabbur. Tanpa upaya ini, maka keagungan Al-Qur'an tidak akan dapat dirasakan dalam kehidupan.

4.    Tathbiq

Tathbiq Al-Qur'an merupakan tanggung jawab berikutnya. Tathbiq artinya adalah merealisasikan dalam pengamalan. Penjagaan dan pemeliharaan Al-Qur'an melalui hafalan adalah dalam rangka mendekatkan setiap muslim terhadap kitab petunjuk kehidupannya. Melalui pemahaman yang mendalam, maka nilai-nilai Al-Qur'an dapat berfungsi secara aplikatif dalam kehidupan sehingga tujuan dapat tercapai, kebahagiaan dunia dan akhirat pun telah mentaatinya.

5.    Tabligh

Tabligh adalah menyampaikan artinya, nilai-nilai Al-Qur'an yang telah dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan bukanlah semata-mata untuk mencapai kesalehan secara pribadi saja tetapi setiap muslim pun dituntut untuk mensosialisasikannya kepada masyarakat secara umum sebagai wujud kepeduliaannya terhadap sesama.

Keutamaan Membaca-menghafat-menghayati-melaksanakan-menda'wahkan Al-Qur'an:

Dari Abu Musa Al-Asy`arit berkata, Rasulullah bersabda: "Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur`an bagaikan buah limau baunya harum dan rasanya lezat. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al Qur`an bagaikan kurma, rasanya lezat dan tidak berbau. Dan perumpamaan orang
munafik yang membaca Al Qur`an bagaikan buah raihanah yang baunya harum dan rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al Qur`an bagaikan buah hanzholah tidak berbau dan rasanya pahit." (HR. Muttafaqun 'Alaihi).

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:  “Penghafal Al Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Quran akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al Quran kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu diapakaikan jubah karamah. Kemudian Al Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku ridhailah dia, maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan”  (HR. Tirmidzi, hadits hasan {2916}, Inu Khuzaimah, Al Hakim, ia menilainya hadits shahih).

Al Qur’an akan menjadi penolong (syafa’at) bagi penghafal .Dari Abi Umamah ra. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Bacalah olehmu Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafalnya).”" (HR. Muslim).

Nabi صلى الله عليه وسلم memberikan amanat pada para hafizh dengan mengangkatnya sebagai pemimpin delegasi. Dari Abu Hurairah ia berkata, “Telah mengutus Rasulullah SAW sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada Shahabi yang paling muda usianya, beliau bertanya, “Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,”Aku hafal surat ini.. surat ini.. dan surat Al Baqarah.” Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, “Benar.” Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (HR. At-Turmudzi dan An-Nasa’i).

Nikmat mampu menghafal Al-Qur’an sama dengan nikmat kenabian, bedanya ia tidak mendapatkan wahyu, “Barangsiapa yang membaca (hafal) Al Quran, maka sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan padanya.” (HR. Hakim)

Seorang hafizh Al Qur’an adalah orang yang mendapatkan Tasyrif nabawi (Penghargaan khusus dari Nabi صلى الله عليه وسلم). Di antara penghargaan yang pernah diberikan Nabi
صلى الله عليه وسلم kepada para sahabat penghafal Al Qur’an adalah perhatian yang khusus kepada para syuhada Uhud yang hafizh Al-Qur’an. Rasul mendahulukan pemakamannya. “Adalah Nabi mengumpulkan diantara orang syuhada uhud, kemudian beliau bersabda, :Manakah diantara keduanya yang lebih banyak hafal Al-Quran, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliu mendahulukan pemakamannya di liang lahat.” (HR. Bukhari)

Hafizh Qur’an adalah keluarga Allah yang berada di atas bumi. “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)

Siapa yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Qur’an.” (HR. Al-Hakim)

“Dan perumpamaan orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan ia hafal ayat-ayatnya bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (Muttafaqun alaih)

Dari Abdillah bin Amr bin ‘Ash dari Nabi صلى الله عليه وسلم, beliau bersabda, “Akan dikatakan kepada shahib Al-Qur’an, “Bacalah dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Al Qur’an di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca.” (HR. Abu Daud dan Turmudzi)

Kepada hafizh Al-Qur’an, Rasul صلى الله عليه وسلم menetapkan berhak menjadi imam shalat berjama’ah. Rasulullah SAW bersabda, “Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (HR. Muslim)

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya satu hasanah, dan hasanah itu akan dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif itu satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.”  (HR. At Turmudzi).

Bahkan Allah membolehkan seseorang memiliki rasa iri terhadap para ahlul Qur’an, “Tidak boleh seseorang berkeinginan kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al-Qur’an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata, ‘Andaikan aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat sebagaimana si fulan berbuat’ (HR. Bukhari).
----------------------------------------------------------------------------------

--------semoga bermanfaat--------

Untuk Anggota Grup AHSANU QAWLAN Penyejuk Hati
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
(((~~~ Saat jiwa kita sangat mencintai kebenaran, maka rawatlah dengan sebaik-baiknya, sehingga Allah juga berkenan merawat dan melindungi kita untuk menjadi hamba-Nya yang selalu ber-istiqomah.

"Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad no: 8493)

"Bersegeralah kamu dengan mengerjakan amalan-amalan (shalih) sebelum munculnya berbagai macam fitnah (kerusakan/ penyimpangan dalam agama) yang (gambarannya) seperti satu bagian malam yang gelap gulita, (sehingga) ada seorang yang di waktu pagi dia masih memiliki iman tapi di waktu sore dia telah menjadi orang yang kafir, dan (ada juga) yang di waktu sore dia masih memiliki iman tapi besok paginya dia telah menjadi orang yang kafir, dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (HR. Muslim no: 118).~~~)))
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------